CIA dan Penumpasan PKI: Melihat Peristiwa 1965 dalam Konteks Perang Dingin

Bevins, Vincent. 2020. The Jakarta Method: Washington's Anticommunist Crusade & The Mass Murder Program that Shaped Our World [Metode Jakarta: Proyek Antikomunisme Amerika Serikat dan Program Pembunuhan Massal Yang Telah Membentuk Dunia Kita]. Penerbit PublicAffairs. 

Ulasan oleh Sawyer Martin French

Pembantaian komunis pasca ’65 bukan hanya menjadi peristiwa besar dalam sejarah Indonesia, namun juga untuk seluruh dunia, begitu tulis Vincent Bevins, wartawan asli Amerika Serikat (AS), dalam The Jakarta Method. Ia menunjukkan bahwa pembantaian komunis di Indonesia merupakan kemenangan besar bagi pihak Amerika Serikat dalam Perang dingin, dan taktik-taktik kekerasan yang digunakan ditiru dalam kampanye-kampanye serupa di seluruh dunia. Pembunuhan dan penghilangan paksa menjadi bagian penting dalam strategi geopolitik AS untuk mendominasi negara-negara Dunia Ketiga.

Konteks Perang Dingin Sebelum 1965

Bevins memulai cerita dalam bukunya dengan memaparkan latar belakang Perang Dingin. Setelah Perang Dunia kedua, dunia seakan-akan terbelah menjadi dua, yakni Blok Barat yang terdiri dari Amerika Serikat (AS) dan negara-negara kapitalis, dan Blok Timur yang terdiri dari Uni Soviet (URSS) beserta negara-negara komunis. Sisanya adalah “Dunia Ketiga” (Third World) yang terdiri dari negara-negara poskolonial, seperti Indonesia dan Brasil.

Buku ini kemudia menceritakan upaya-upaya AS dalam memerangi komunisme secara diam-diam di dunia ketiga (dan secara terbuka dengan senjata seperti di Vietnam) melalui peran CIA (Central Intelligence Agency, Badan Intelijen Negara AS).

Pada awal Perang Dingin, terdapat kebijakan dalam pemerintahan AS yang disebut “the Jakarta Axiom”. The Jakarta Axiom merupakan sebuah kebijakan yang menyatakan bahwa negara-negara Dunia Ketiga boleh bersikap netral dalam konflik permusuhan antara AS dan URSS. Namun, kebijakan ini berakhir pada tahun 1953 karena suasana politik di AS semakin menggila dengan ideologi antikomunisme (melalui “McCarthyism”). Ideologi antikomunisme tersebut hadir demi menjaga kepentingan pasar modal di negara-negara Dunia Ketiga.

Setelah tamatnya kebijkan Jakarta Axiom, setiap negara Dunia Ketiga yang tidak mendukung Blok Barat secara eksplisit dianggap ancaman bagi pemerintah AS. Atas alasan ini, CIA merekayasa kudeta di Iran pada tahun 1953 dan di Filipina, termasuk di Guatemala pada tahun berikutnya. Upaya ini terus berlanjut dengan memasukkan aktor-aktor pro-kapitalis dan Blok Barat ke dalam pemerintahan negara-negara tersebut.

Walaupun secara personal Soekarno bukanlah seorang komunis, tapi Ia mulai dianggap terlalu dekat dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) oleh pemerintah AS. Anggapan tersebut muncul lantaran sikap Soekarno yang anti pemerintahan AS dan tak segan menolak aliansi dengan AS dalam melawan Uni Soviet. Ditambah lagi, Indonesia menjadi tuan rumah bagi Konferensi Bandung (Konferensi Asia-Afrika) pada tahun 1955. Melalui konfrensi tersebut, Indonesia bersama negara-negara bekas jajahan lainnya mendeklarasikan hak-hak negara Dunia Ketiga dalam menentukan nasibnya sendiri dan bebas dari dominasi (neo)kolonial.

Bersamaan dengan Konferensi Bandung, CIA menghabiskan uang sebanyak 1 juta dolar dalam upaya untuk memenangkan Masyumi (sebagai unsur politik kanan dan antikomunis) di pemilu 1955. Para pemimpin AS semakin khawatir setelah melihat PKI mendapat 16.4 persen dari seluruh suara dalam pemilu tersebut, dan angka ini naik ke 27 persen dalam pemilu daerah tahun 1957.

Pada akhir 1950an ini, AS secara diam-diam mulai mulai menyokong para gerakan separatis di Indoensia yang secara terang-terangan antikomunis, seperti PRRI, Permesta, dan Darul Islam. Akan tetapi, lama-kelamaan pemerintah AS menyadari bahwa militer (yang dipimpin oleh Nasution) merupakan unsur paling anti-komunis diantara semua elemen. Maka, AS mulai merayu dan memberi dukungan kuat kepadanya. Sekitar tahun 1960, ribuan anggota TNI mulai dikirim untuk studi dan pelatihan di Amerika.

Pada awal tahun 1960an, di bawah presiden John F Kennedy (disingkat JFK), pemerintah AS mulai menggunakan strategi khusus dalam memerangi komunisme di negara-negara Dunia Ketiga. Pada saat itu, Iraq mempunyai partai komunis terbesar kedua (setelah Indonesia) dari negara-negara non-Soviet. Karenanya, di tahun 1963 CIA mendalangi kudeta untuk memenangkan partai Baath (yang antikomunis). Bahkan, AS turut memberikan daftar nama-nama anggota komunis untuk dibunuh, diculik, dan disiksa dalam penjara.

Kasus penting dalam strategi anti-komunis yang di waktu itu terbilang baru ini adalah kudeta militer di Brasil pada 1964 untuk menurunkan Presiden Jango—yang sedang mengkampanyekan program reformasi tanah. Penting dicatat bahwa dalam kasus ini, kudeta dilaksanakan tanpa bantuan AS secara terbuka—lain halnya dengan kudeta-kudeta anti-komunis sebelumnya seperti di Iran, Guatemala, dan Iraq. Namun, operasi ini dilaksakakan oleh tentara Brasil sendiri, yang sangat anti-komunis dan sudah lama memperoleh dukung dari pemerintah AS dalam kerjasamanya menumpas komunis.

Melalui kampanye Konfrontasi terhadap Malaysia yang dimulai oleh Soekarno pada 1963, AS mulai menjauh dari Soekarno dan menganggapnya bahaya karena dianggap teralalu “kiri”. Sejak saat itu, bantuan dari AS untuk Indonesia tiba-tiba berhenti mengalir, kecuali untuk ABRI.

Menjelang 1965, CIA mencari-cari jalan untuk memusnahkan PKI. Pihak yang dipercayakan di Indonesia dalam tugas ini adalah ABRI, khususnya Jendral Nasution dan Soeharto. Saat ini, terdapat dokumen-dokumen dari CIA yang mengatakan bahwa tujuan dari misi ini adalah untuk menggambarkan kudeta yang gagal oleh PKI dan pembalasan terhadapnya.

G30S dan Penumpasan PKI

Gerakan ini bernama G30S, terdiri dari segolongan pewira dari angkatan darat menculik dan akhirnya membunuh jendral-jendral besar pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, alasannya adalah untuk mencegah kudeta kontra Soekarno yang sedang direncanakan oleh PKI. Namun, G30S segera dikalahkan oleh Soeharto—yang anehnya tidak ditahan dalam peristiwa G30S. Soeharto lalu segera mencabut kekuasaan Soekarno dan menyelenggarakan propaganda besar, bahwa G30S merupakan rencana PKI untuk melakukan pembunuhan massal. Fitnah Soeharto juga menyasar pada Gerwani—organisasi perempuan besar yang memiliki kedekatan dengan PKI—melalui tuduhan bahwa para jenderal telah disiksa dengan kejam olehpara anggota Gerwani. Ilustrasi ini digambarkan dalam film propaganda “Pengkhianatan G30S/PKI”.

Banyak pertanda yang menunjukkan bahwa peristiwa G30S dan perkembangan politik setelahnya merupakan rencana CIA belaka untuk merekayasa penurunan Soekarno dan menghancurkan PKI. Tindakan Soeharto yang serba cepat serta gaya propaganda antikomunis yang digunakannya sangat mirip dengan ulah CIA dalam menumpas koomunisme di negara lain seperti Brasil, meskipun kenyataan yang sebenarnya masih gelap lantaran dokumen-dokumen dari CIA mengenai peristiwa ini masih dirahasiakan.

Penahanan dan pembunuhan massal terhadap PKI “sampai tuntas” di Indonesia dimulai dari Aceh pada tanggal 7 Oktober. “Operasi Penumpasan”—begitu disebutnya oleh ABRI—disambut riang gembira dengan bantuan dari pemerintah AS.

Selain bantuan senjata, CIA juga memerikan ABRI daftar nama-nama anggota PKI untuk dibunuh, ini persis seperti taktik yang digunakan di Guatemala (1954) dan Iraq (1963) sebelumnya. Setelah Supersemar dan jatuhnya Soekarno pada 10 Maret 1966, bantuan ekonomi dari AS pun langsung mengalir lagi. Soeharto membalas jasa AS tersebut dengan membatalkan rencana Soekarno untuk menasionalisasi minyak tanah dan membuka peluang untuk perusahaan tambang asing seperti Freeport.

Warisan 1965 terhadap Politik Global

Peristiwa penumpasan PKI juga memiliki dampak penting terhadap politik internasional. Di Vietnam, di mana tentara Amerika memerangi pemerintah komunis sejak 1955, AS mulai bisa menerima kekalahannya lantaran telah ada partai komunis yang lebih besar se-Asia Tenggara yang berhasil dihancurkan.

Jatuhnya PKI—yang tidak angkat senjata sebagai upaya pertahanan diri—juga menjadi pelajaran bagi partai-partai komunis lain di Dunia Ketiga (misalnya Kamboja, Filipina, dan Chili) untuk bernai angkat senjata dan tidak bersandar pada politik demokratis.

Taktik yang digunakan dalam penumpasan PKI—terutama penghilangan paksa dan pembunuhan massal—juga diekspor dan digunakan dalam proyek-proyek antikomunis di negara-negara lain, seperti Guatemala, Brasil, Filipina, dan Sudan. Di Brasil, Chili, dan Argentina, program-program untuk menghilangkan unsur-unsur dan orang-orang komunis bahkan disebut “Operasi Jakarta” dan “Rencana Jakarta.” Di sini, “Jakarta” menjadi sinonim untuk pembunuhan antikomunis massal. 

Peta pembunuhan massal antikomunis selama Perang Dingin

Program antikomunis global yang berhasil menghancurkan partai-partai komunis dengan pembunuhan massal ini mengakibatkan banyak negara-negara yang dulu memiliki semangat antikolonial melalui deklarasi Konferensi Bandung beralih menjadi sekutu-sekutu AS dan dikuasai oleh diktator-diktator. Berpusat di Chili, munculah “Operasi Condor,” yang merupakan jaringan internasional dengna tujuan untuk membunuh dan merepresi para komunis di seluruh Amerika Latin. Tugas ini dilaksanakan melalui kerjasama denga CIA dan berbagai kelompok fasis di negara-negara operasinya.

Pada tahun 1975, saat AS keluar dari Vietnam, di Indonesia masih ada banyak kamp-kamp penjara di mana para tahanan diwajibkan kerja paksa. Pada tahun yang sama, Soeharto juga menggunakan alasan anti-komunisme untuk menyerbu Timor Leste, padahal rezim di sana tidak berhubungan sama sekali dengan URSS, Tiongkok, atau Vietnam. Invasi terhadap Timor Leste ini tentu saja terjadi karena persetujuan AS. Perang yang berlanjut sampai tahun 1979 ini membunuh sepertiga dari seluruh penduduk Timor Leste.

Pada tahun 1979, terungkap bahwa rezim Pol Pot (Khmer Rouge) di Kamboja telah membunuh seperempat dari penduduk negaranya, dan Vietnam langsung menyerbu untuk menurunkannya. Tapi AS dan Soeharto tetap mendukung Pol Pot dan mencela intervensi (“agresi”) dari negara komunis seperti Vietnam.

Pada akhir dekade 1970an, ada sedikit pergeseran politik di Amerika Serikat di bawah presiden Jimmy Carter yang mulai kritis terhadap taktik-taktik brutal dalam Perang Dingin. AS berhenti mengekspor senjata ke negara-negara yang tidak menghormati “Hak Asasi Manusia” (HAM), yaitu negara-negara yang dalam pendiriannya terdapat keikutsertaan CIA! Penjualan senjata pun langsung diganti oleh sekutu-sekutu AS lain seperti Israel dan Taiwan. Melalui kemenangan Ronald Reagan pada pilpres tahun 1980, AS kembali lagi ke taktik-taktik antikomunis yang brutal.

Di tahun 1978 – 1983, militer di Guatemala melaksanakan kampanye pembunuhan massal untuk melawan komunisme. Kampanye ini secara khusus disertai dengan pembantaian orang-orang suku asli pribumi. Para tentara pembunuh ini juga didukung dan dilatih oleh pemerintah AS. Peristiwa ini memakan lebih dari 200,000 jiwa, termasuk dengan cara-cara pelenyapan paksa model “Jakarta.” Jumlah korban pembunuhan massal antikomunis di Amerika Latin mirip dangan jumlah korban ’65 di Indonesia.

Seiring jatuhnya URSS sekitar tahun 1990, perlahan-lahan operasi-operasi CIA dan perang-perang antikomunis menjadi lebih langka. Diktator-diktator yang bersekutu dengan AS pun akhirnya tumbang (dan dibiarkan oleh AS). Brasil, Indonesia, dan negara-negara lain memulai transisi ke demokrasi. Namun, warisan fanatasisme antikomunis masih mengakar kuat dan negara-negara tersebut terjerat dalam ekonomi kapitalis global beserta rezim-rezim internasional yang dikuasai Amerika Serikat.

Semangat dari Konferensi Bandung untuk Dunia Ketiga yang kuat dan mandiri bisa dibilang kini telah padam, dipadamkan oleh AS, CIA, dan sekutu-sekutunya.

* * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar